Perubahan drastis berlangsung dalam sistem politik Turki sejak Mustafa Kemal mendapat mandat Sultan Wahiduddin untuk mengobarkan semangat revolusi melawan kekuatan asing di Anatolia. Terlebih lagi, setelah terpilih menjadi Presiden Republik Turki yang pertama. Pada 3 Maret 1924, Majelis Agung Nasional mengukuhkan penghapusan sistem Khilafah dan Kementerian urusan agama dan waqaf.
Memasuki 1925, keresahan di tengah masyarakat Turki semakin meruncing. Ketidakpuasan atas perubahan yang terjadi menjadi bom waktu. Seorang sheikh Naqsyabandi yang bernama Sheikh Said mendapat dukungan besar-besaran dari suku-suku Kurdi untuk melakukan pemberontakan yang akhirnya pecah pada 13 Februari 1925.
Kor Husein Pasya, seorang kepala suku kuat dari suku Haydaran, dan seorang panglima salah satu resimen suku yang mengganti tentara Hamidiye, pada sebuah kesempatan, dengan didampingi oleh Abdulbaki, anak laki-laki seorang Mufti dari Van, Syekh Ma‘shum, seorang teman dekat Nursi, mengunjungi Said Nursi di Gunung Erek.
Husein Pasya: “Saya ingin berkonsultasi dengan Anda. Para prajurit, kuda, dan persenjataan serta amunisiku semuanya telah siap. Kami hanya tinggal menunggu komando Anda.”
“Apa maksudmu? Siapa yang ingin kamu perangi?
“Mustafa Kemal.”
“Memang siapa-siapa prajurit Mustafa Kemal?”
“Saya tidak tahu . . . para prajurit.”
“Prajurit-prajurit itu adalah anak-anak negeri ini. Mereka adalah handai tolanku dan handai tolanmu. Siapa yang akan kamu bunuh? Dan siapa yang akan mereka bunuh? Berpikirlah! Pakai otakmu! Apakah kamu hendak menyuruh Ahmet membunuh Mehmet, dan Hasan membunuh Husein?”
Di lain kesempatan, Kor Husein Pasya juga mendekati Nursi di Masjid Nursin setelah Shalat Jum‘at didampingi oleh beberapa kepala suku dan orang terkemuka lain. Nursi berkata kepada mereka: “Aku ingin tahu dari mana datangnya ide untuk mengabdi pada pergerakan ini? Aku bertanya kepada kalian, apakah itu Syari‘ah yang kalian inginkan? Tapi tindakan seperti itu sungguh bertentangan dengan Syari‘ah. Ada kemungkinan besar hal ini dimanfaatkan dan diprovokasi oleh orang-orang asing. Syari‘ah tidak boleh dilanggar dengan memanfaatkannya dan berteriak demi dia. Kunci Syari‘ah ada bersamaku. Sekarang kalian semua pulanglah kembali ke rumah masing-masing!” Ketika selesai berbicara, Nursi berdiri dan kembali ke gunung Erek. Kor Husein Pasya dan para pemimpin suku tersebut mengindahkan peringatannya dan tidak bergabung dalam pemberontakan, yang berarti bahwa Van dan penduduknya tidak dipaksa untuk bergabung dalam pemberontakan tersebut, dan ribuan nyawa diselamatkan.
Syekh Said bahkan menulis langsung ke Nursi memohon dia bergabung dalam pergerakan, dengan mengatakan bahwa jika dia bergabung mereka akan “berhasil”.
Nursi menulis dalam jawabannya: “Perjuangan yang sedang engkau mulai akan menyebabkan saudara membunuh saudara dan akan sia-sia. Karena Turki dan Kurdi adalah bersaudara. Bangsa Turki telah bertindak sebagai teladan Islam selama berabad-abad. Bangsa Turki telah menghasilkan jutaan orang saleh dan memberi jutaan syuhada. Pedang tidak boleh dihunuskan kepada anak-anak heroik pembela Islam, dan aku tidak akan menghunuskan pedangku!”.
Disadur M Mahdy Mohamad (Cairo) dari Biografi Intelektual Said Nursi, Şukrän Vahide