Maa shadara min al-qalbi waqa‘a fii al-qalbi”, sebuah ungkapan popular di tengah masyarakat Arab. Ucapan yang berasal dari hati akan sampai ke hati pendengar.

Seorang syeikh sufi bernama Amjad az Zahawi pernah diundang ke istana oleh Raja Faisal ibn Huseyn, raja Irak. Beliau bersama sejumlah alim lain untuk suatu keperluan. Anda tahu, di mana-mana, ketika kekuasaan raja memuncak, maka korupsi dan penyimpangan pun memuncak. Korupsi dipicu oleh hasrat kemewahan.

Az Zahawi berniat mengkritik itu di depan hidung raja. Kritik macam ini ekual dengan jihad.

Singkatnya, az Zahawi diundang bersama sejumlah ulama ke istana. Saat raja masuk ruangan, sontak az Zahawi berdiri shalat dua rakaat.

Yang menarik perhatian adalah lafal niatnya yang dia keraskan (jahar-kan): “Nawaytu ushallii lillahi rak’atayn fii makaanin laa yudzkar Allaah fiih. Allaahu Akbar!”. Saya berniat shalat dua rakaat di tempat yang tidak pernah Allah diingat di dalamnya, Allahu Akbar!  Gubrakk…

Bagaimana rekasi raja? Itu tadi, karena ucapan az Zahawi murni berasal dari hatinya, maka raja yang mendengarnya pun tidak jadi marah. Ingat! Aksi ini bukan untuk ditiru. Az Zahawi bukan sedang bermain peran, bukan dengan sikap takabur, atau pencitraan — az Zahawi seorang alim besar dan keikhlasannya pun besar.  

Raja justru senang kepada az Zahawi dan rela menunggu sampai dua rakaatnya itu usai. Itulah, maa shadara min al-qalbi waqa‘a fii al-qalbi, ucapan yang berasal dari hati akan sampai ke hati pendengar.