Dalam Perang Dunia I, Imperium Turki Ottoman bergabung dengan Kekuatan Poros melawan Triple Entente. Di front Kaukasia, Rusia berhasil mencaplok sejumlah wilayah Turki di timur Anatolia.
Pada saat itu, Said Nursi yang tengah membangun Medresetuz Zahra, yang disebutnya akan menjadi “saudara kembar Al Jāmi’ Al Azhar di Cairo”, segera bergabung dengan Dinas Militer dan ditempatkan di Divisi 33 Van, bahkan Nursi ditunjuk menjadi mufti askar.
Said Nursi memimpin milisi sukarelawan yang terdiri dari a.l. murid-muridnya, Ia tak pernah lelah mengobarkan semangat patriot pasukan Turki Usmani. Nursi dengan pasukannya yang dikenal dengan “pasukan Topi Kempa” mampu menggentarkan pasukan Rusia. Ia juga terkenal berhasil menahan orang-orang Cossack Rusia yang terkenal brutal. Pada akhirnya, Nursi tertawan oleh pasukan Rusia dan dibawa ke kamp Costurma di timur Rusia.
Suatu kali Nicholas Nicholayavich, paman tsar, sekaligus komandan kepala pasukan Rusia di front Kaukasus, melakukan inspeksi di kamp tersebut. Ketika berkeliling, dia melintasi tempat Nursi yang sedang duduk. Nursi tidak memperhatikan dan sama sekali tidak bergeming. Sang jenderal memperhatikannya, dan bisa menerima, lalu melintas untuk kedua kalinya tapi Nursi masih juga tidak berdiri. Maka dia melintas untuk ketiga kalinya, dan berhenti. Dia bertanya kepada Nursi melalui seorang juru bahasa:
“Kamu tahu siapa aku?”
“Ya, saya tahu,” jawab Nursi.
“Lantas kenapa kamu menghinaku?” Tanya jenderal. “Maafkan saya, tapi saya tidak bermaksud menghina. Saya hanya menjalankan apa yang diwajibkan keyakinan saya.”
“Apa yang diwajibkan oleh keyakinanmu?”
“Saya ini seorang ulama Muslim, dan saya memiliki iman di hati sanubari saya. Seorang yang beriman lebih tinggi kedudukannya dibanding orang yang tidak beriman. Kalau saya berdiri, itu berarti saya melecehkan keyakinan saya. Maka dari itu, saya tidak berdiri.”
“Kalau begitu kamu mengatakan bahwa aku tidak memiliki iman, dan kamu menghina diriku sekaligus dinas ketentaraan yang menjadikan aku salah satu anggotanya, juga negaraku, dan tsar. Pengadilan militer akan segera dilaksanakan, dan kamu akan dimintai keterangan.”
Sesuai perintah jenderal, maka pengadilan militer pun dilaksanakan. Tentara Turki, Jerman, dan Austria datang ke markas dan berusaha membujuk Nursi agar minta maaf kepada jenderal, tapi katanya kepada mereka:
“Aku menginginkan kerajaan akhirat dan menjadi bagian dari umat Rasullullah, dan aku harus mempunyai paspor untuk itu. Aku tidak bisa mengkhianati keyakinanku.”
Demi mendapatkan jawaban ini, mereka pun hanya bisa menunggu putusan pengadilan. Interogasi selesai. Kemudian putusan yang diambil adalah Nursi harus dieksekusi di lapangan karena menghina tsar dan tentara Rusia. Ketika pasukan datang untuk menjalankan hukuman, Nursi meminta waktu lima belas menit untuk menjalankan kewajiban. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk berwudhu dan shalat dua rakaat. Jenderal Rusia tiba di tempat kejadian ketika Nursi sedang melaksanakan shalatnya. Seketika itu juga sang jenderal menyadari kesalahannya dan mengatakan kepada Nursi seusainya shalat: “Maafkan aku! Kukira engkau berperilaku seperti itu untuk menghinaku, maka aku mengambil tindakan yang aku anggap tepat. Sekarang aku tahu, kamu hanya menjalankan apa yang diwajibkan oleh keyakinanmu. Hukumanmu dihapuskan. Engkau layak mendapat penghargaan atas keteguhanmu kepada keyakinan yang kau anut. Sekali lagi aku minta maaf.” (M Mahdy Mohammed, Cairo) Disadur dari Biografi Intelektual Badiuzzaman Said Nursi, Şükran Vahide