Bagi saya, banyak kenangan dalam genangan setelah bulir-bulir hujan jatuh membasahi bumi. Salah satunya saat pakaian kawan kampus dari atas sampai bawah terkena banjuran (bukan cipratan) air hujan yang tergenang di pinggir jalan. Siang itu, mobil bertubuh besar dan keluaran terbaru di tahunnya sukses membuat genangan yang dilaluinya membanjiri kawan saya hingga tak bersisa. Saya yang saat itu berjalan 50 meter di belakangnya hanya bisa tertegun dan segera berlari memastikan tubuhnya yang membatu seketika.

Ada kekesalan yang tampak di wajahnya. Namun, secepat itu pula dihapus dengan istighfar yang dilisankannya. Jujur saja, saya sangat salut dengan upayanya menetralkan diri kembali untuk tidak terbawa emosi. Saya, bukan orang yang mengalaminya. Namun, lidah ini sudah siap mengeluarkan berbagai pernyataan untuk pemilik mobil tersebut dan akhirnya tertahan. Sebanyak apa pun pernyataan saya, toh tidak akan terdengar. Mobil tersebut sudah melaju secepat kilat tanpa rasa bersalah.

Sebenarnya, bagaimana seharusnya perilaku kita sebagai manusia sekaligus pengguna kendara?            Ada ayat Quran yang juga mengatur bagaimana seorang muslim berjalan di muka bumi, yaitu “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra ayat 37). Selain itu, Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah memaparkan adab-adab berkendaraan yang perlu dipatuhi oleh seorang Muslim.  

Pertama, niat yang baik. Seorang muslim ketika naik kendaraan atau menggunakan alat transportasi harus meniatkan diri untuk mencapai tujuan yang benar, di antaranya untuk menyambung tali silaturahim, mencari nafkah, ziarah karena Allah. Selain itu, juga berniat akan berlaku baik terhadap kendaraan yang dinaiki sesuai dengan syariat Allah SWT.

Kedua, mengakui nikmat Allah Ta’ala. Menurut ulama terkemuka itu, ketika sedang mengendarai kendaraan ataupun setelahnya hendaknya seorang hamba mengakui limpahan nikmat yang diberikan kepadanya. Sebab, berkat kendaraan yang dianugerahkan Allah SWT itu, seseorang bisa menghemat waktu dan tenaga untuk sampai ditujuan.

Ketiga, memilih kendaraan yang cocok untuk perjalanan. Ajaran Islam sangat memperhatikan keselamatan dan kenyamanan. Karena itu, menurut Syekh as-Sayyid Nada,  seorang muslim hendaknya memilih kendaraan yang paling bermanfaat dan cocok untuk mencapai tujuan. 

Keempat, mempersiapkan alat transportasi. Setiap muslim yang hendak bepergian hendaknya mempersiapkan alat transportasi yang akan digunakannya, jika kendaraan tersebut milik pribadi. Syekh as-Sayyid Nada menganjurkan agar sebelum digunakan, kendaraan diperiksa mesinnya, bahan bakarnya, onderdil-onderdilnya. Jika kendaraan itu berupa hewan tunggangan, hendaknya diperiksa kesehatan dan kekuatannya.

Kelima, doa berkendaraan.  Saat akan menaiki kendaraan, seorang Muslim tak boleh lupa berdoa. Hendaknya seseorang berdoa dengan zikir yang sahih dari Nabi SAW ketika menaiki kendaraan. Berikut doa ketika akan naik kendaraan: ‘’Segala puji bagi Allah, Maha Suci Zat yang telah menundukkan bagi kami kendaraan inipadahal sebelumnya kami tak dapat menguasainya. Sesungguhnya kepada Rabb-lah kami akan kembali.”

Dengan mengetahui hal yang telah dipaparkan di atas, semoga kita menjadi pengendara yang lebih bijak. Dalam setiap perjalanan yang kita lakukan, ada pula hak orang lain di dalamnya. Wallahu a’lam.

Hilmawati, S.Hum
Staf Pengajar di MA Al-Azhar Asy-Syarif Indonesia

Sumber:

Alquran, https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/04/06/onzgzg313-adab-berkendara

Mayasya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *