Pada usia SD kelas V, saat pulang kampung, rumah-rumah di Kampung Bugis, Ancu, Kajuara Bone, Prov. Sul Sel (155 km dari Makassar), selalu ada Gumbang. Gumbang adalah semacam guci besar terbuat dari tanah liat, posisinya tepat di samping tangga, biasanya ada batu gunung ukuran satu meter sebagai landasan menopang tangga dan juga berfungsi sebagai tempat untuk mencuci kaki dan tangan sebelum anggota keluarga atau tamu naik ke rumah.

Sebelum WHO mendeklarasikan protokol kesehatan diri, kearifan lokal kakek nenek kita di kampung halaman ternyata sudah melakoni tradisi baik ini, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga hidup lebih terjaga, selalu sehat dan jarang sakit. Satu kampung, tetangga empat puluh rumah ke kiri dan ke kanan, semuanya terbilang keluarga. di belakang rumah panggung, paman dan sanak keluarga bercocok tanam padi dan palawija, saat panen, selain dikonsumsi oleh keluarga juga dibagi antar tetangga, di depan rumah terbentang tambak- tambak milik keluarga, ada ikan bandeng dan udang jumbo, bila ada yang sakit, Paman Puang Abdullah yang juga Kepala Sekolah SD di kampung itu tinggal memanggil mantri kesehatan, Pak Sulaimang namanya, Ia melayani anak-anak desa yang sakit, dengan senyumnya yang merekah, indah sekali.

Tatkala masuk ke ruang tamu di rumah panggung yang semuanya terbuat dari kayu, beratap genteng tanah liat itu, masih teringat ada hiasan kaligrafi di dinding, sebuah pesan wasiat Baginda Rasulullah SAW terpajang rapih, “Gunakanlah yang lima sebelum datang yang lima; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Hiasan kaligrafi itu seakan-akan selalu menasehati siapa saja yang masuk ke ruang tamu itu, baik keluarga sanak saudara ataupun tamu yang datang berkunjung. Masa Muda sebelum tua, masa muda merupakan masa paling produktif bagi setiap orang, sehingga kita merasa perlu untuk membiasakan diri melakukan amal saleh sedari muda, kebiasaan membangun batu bata kebajikan saat muda akan terbawa hingga tua. Utamanya di saat sekarang ini virus Covid-19 begitu cepat menyebar, kita melihat keterlibatan dokter-dokter muda, perawat-perawat muda, bahkan banyak anak-anak muda yang secara sukarela membuat beberapa program kemanusiaan, mengumpulkan derma untuk menopang warga miskin yang pendapatannya diperoleh dari bekerja harian, dengan menyediakan bahan pokok gratis.

Sehat sebelum sakit, kesehatan merupakan anugerah, karunia dan nikmat yang sering kali terlupakan, kita yang diberi kesehatan ini, perlu membangun suasana jiwa yang baik, sehat jasmani dan sehat ruhani. Semasa masih sehat, ulurkan tangan kita membantu sesama tanpa mengulur-ngulur waktu. Waktu luang sebelum sibuk, Baginda Rasulullah SAW berpesan” malam itu panjang maka jangan membuatnya pendek (menyia nyiakannya) dengan tidurmu dan siang itu terang jangan engkau gelapkan dengan dosa-dosamu”.

Kaya sebelum miskin, Jika Allah SWT berikan karunia berlebih, ingatlah itu hanya amanah yang dititipkan kepadamu, berbagilah dan bersedekahlah. Rasulullah pernah ditanya, apakah Islam itu, Islam itu adalah memberi makan dan mengucapkan salam bagi orang engkau kenal dan orang yak tak kau kenal.  Hidupmu sebelum mati, hidup ini bagaikan mampir minum saja. Hidup hanya sekejap. Secara tersirat, setiap kita diharapkan  untuk tidak hanya mencukupi keperluan hidup di dunia ini, tapi juga menyiapkan diri untuk kehidupan lain, sesudah kematian.

Di rumah-rumah panggung Bugis Makassar masih biasa kita temui hiasan kaligrafi penuh makna itu, mungkin yang sudah jarang adalah Bempa atau gentong ini, sudah diganti dengan galon air. Kampung Ancu- Lamakkaba, Kajuara bisa jadi sudah menjadi kota, rumah rumah panggung telah berubah menjadi rumah batu ditandai dengan dua tiang di depan, desainnya mirip dengan gedung Parlemen Yunani.

Semoga kelak gumbang-gumbang itu, yang juga berfungsi menampung air hujan itu bisa dihadirkan kembali saat mudik sudah dibolehkan lagi.“ Ruwa-ruwasi lise gumbangmu, anengnengko narekko dee maratte limai lise’na. Penuhilah Gumbang-mu dengan air, bersedihlah jika tanganmu tak lagi mampu menggapai permukaan airnya.

Syamsu Alam Darwis ( Direktur Azkia Institute Jakarta)

Mayasya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *