Pada tahun sembilan puluhan, di distrik 8 atau Hay Tsamin, Cairo terdapat studio foto yg dikenal mahasiswa asal Indonesia. Selain ongkosnya murah, ada sikap posenya yang khas, ditambah jas dan dasi. Maka, tiap kali melihat potret teman dengan posisi badan miring, wajah dominan pipi kanan, kertas cetak mengilap, sudah dapat ditebak di mana ia dijepret.

Pada dekade itu, sebagaimana Pak Harto di Indonesia, kuasa Hosni Mubarak sedang kuat-kuatnya. 1 dolar amerika sama dengan 2300 rupiah atau 3 junaih sekian qirsy. Banyak mahasiswa asing bermukim di Madinat Nashr, distrik 6, distrik 7, dan distrik 8. Mengapa hanya diberi nama angka alih-alih nama, entah. Yang jelas, dibanding orang sini, orang sana terkesan kurang peduli memberi apalagi mengubah nama. Nama orang ya, nama tempat juga ya.

Al-Qahirah atau Cairo, itu nama entah sudah berapa ratus tahun tidak diubah. Lha, di kita, Makassar diganti Ujung Pandang. Terus, balik lagi jadi Makassar. Orang di sana banyak yang namanya sama dengan nama ayah maupun kakeknya. Dan, itu biasa dan Lazim. terutama pada nama yang meminjam nama Nabi (saw).

Kembali ke soal foto, karena penting. 2 barang yang selalu mesti tersedia di dompet atau tas di samping uang tunai dan kartu identitas -pada masa itu- Materai dan foto. Materai (orang Mesir menyebutnya “damghah”) dan foto sering kali diperlukan untuk urusan administrasi. Misalnya, untuk membuat surat keterangan mahasiswa (orang Mesir menyebut: “tashdiiq”). Anda mengurus tashdiiq tapi tak membawa 2  barang itu, maaf, ya gak bisa. Anda membawa dua-duanya lengkap pun kalau bukan takdir ya juga ga bisa. Eh, maksudnya, kalau pegawai administrasinya sedang bete (bad mood), ya, maaf. Dia dengan enteng bilang, “Bukrah!”

Bukrah artinya: “Anda datang lagi sini, esok!” Ya, bukrah artinya besok. Nah, “bukrah” ini kosakata yang paling sering dijumpai pada musim pengurusan. Musim pengurusan izin tinggal, visa alias iqaamah. Musim pengurusan surat keterangan mahasiswa, tashdiiq. Musim pengurusan kartu mahasiswa, karneh. Dan seterusnya.

Cerita kita dibilangin bukrah ini cerita yang populer sekali. Padahal Universitas Al Azhar ini kan universitas berskala internasional dalam pengertiannya yang tidak main-main. Tidak dibuat-buat. Tidak juga direkayasa. Ia bertumbuh dan berkembang sangat alamiah. Nah, mahasiswanya yang paling banyak ya dari Mesir sendiri dan dari negara-negara Afrika. semua sistem administrasi pada masa itu manual. Begitu juga di Al-Azhar dan di instansi-instansi di bawah pemerintah Mesir, Termasuk imigrasi. Karena semuanya masih manual, maka sering kali terjadi antrean orang-orang yang sedang mengurus. Satu cerita sebagai contoh saja. Seorang teman yang sudah mengantre dari jam 8 pagi, semua berkasnya sudah lengkap. Termasuk materai dan foto, pastinya. Saking panjangnya antrean sampai jelang jam dua belas barulah antrean itu nyaris habis. Sekarang sisa dua orang lagi Teman itu dan satu lagi di depannya. Rasa senang membuncah. Alhamdulillaaah, dikit lagi! Nah, begitu giliran mahasiswa yang di hadapannya tiba, jarum jam tepat menunjuk angka 12. Admin kemahasiswaan itu, dengan entengnya bilang: “Bukrah ya alad.” Besok ya, Tong! Besok, lu kemari, bawa lagi berkas, materai, dan fotonya.

Zainal,

 Pesantren Pondok-Petir

Mayasya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *