Fikih itu ada dua bagian. Pertama, masalah-masalah dan pemecahannya atau hukumnya. Ini disebut hukum furu’, hukum-hukum cabang. Yang namanya cabang, berarti ada pokok atau batangnya, dong?!

Ya, ada batangnya. Batangnya ini disebut ushul. Ushul ini terdiri dari beberapa ilmu, terutama ilmu Ushul Fikih dan ilmu Qawa’id Fikih.Kata ulama, cabang fikih itu banyak sekali, sampai satu juta empat ratus ribu sekian. Banyak, ya?!

Karena itu, orang yang bijak mengutamakan belajar ushul atau pokok. Mereka suka mencari yang pokok-pokok, simpulan-simpulan besar, intisari-intisari. Kalaupun harus bepergian jauh menuntut ilmu fikih pokok, tak mengapa. Di kita, yang ikut mazhab Syafii dikenal lima kaidah empat atau lima simpulan fikih.

Di kita, yang ikut mazhab Syafii dikenal lima kaidah empat atau lima simpulan fikih.

Nah, ada cerita. Walau lokasi kejadiannya nun jauh di sana dan di kalangan mazhab Hanafi, tetapi menarik. Lucu, pula. Dahulu kala, tersiar kabar bahwa seorang ulama berhasil menyimpulkan fikih Hanafi ke dalam tujuh belas kaidah pokok. Sang alim bernama Abu Tahir ad Dabbas.

Sayangnya, entah dengan alasan apa, Abu Tahir belum bersedia mempublikasikan capaiannya. Masih rahasia. Setiap hari selepas jemaah Isya, ia melafalkan ketujuh belas kaidah itu.

Abu Tahir ini buta. Tapi, dia tahu kapan saatnya bersendiri setelah semua jamaah mesjid beranjak keluar. Saat masjid benar-benar sunyi, ia baru membaca 17-kaidah rahasianya. Abu Tahir mastautin di Transoxiana, Uzbekistan. Transoxiana dalam arab: Ma wara’an nahr.

Nahr dan oxum artinya sungai. Yaitu, sungai Amu-Daria dan sungai Syr-Daria. Nah, kabar ini sampai ke telinga Abu Sa’id. Abu Sa’id seorang qadi alias hakim agama di Harat. Maka, namanya selalu diimbuhi al-Harawi.  Abu Sa”id penasaran sekali ingin mengetahui kaidah-kaidah rahasia Abu Tahir.Ia pun memutar otak.  Agar nafasnya tak terendus oleh Abu Tahir, Abu Sa’id bersembunyi dalam gulungan tikar masjid. Nafasnya ia atur sepelan mungkin. Semua orang sudah bubar dari dalam masjid. Rupanya, Abu Sa’id berhasil dengan triknya. Abu Tahir yakin masjid kosong. Hanya ada dia sendirian. Pintu masjid pun ditutupnya rapat-rapat. Mulailah ia merapalkan kaidahnya satu per satu. Satu demi satu kaidah dia bacakan. Kaidah satu, dua, tiga hingga tujuh. Abu Sa’id pun menyimak dan menghafalkannya baik-baik. Hmm, entah kenapa kok tiba-tiba Abu Sa’id terbatuk kecil. Karuan saja, Abu Tahir meloncat ke arahnya, memukul dan menghardiknya keluar. Semenjak itu, Abu Tahir tak lagi meneruskan kebiasaannya. Lalu, bagaimana dengan Abu Sa’id? Oh, tujuh kaidah dia bawa ke Harat dan bocorkan ke alim-ulama di sana.

Hehe… Gimana menurut pembaca? Mengapa Abu Tahir merahasiakan capaian ilmunya?

Tulis di kolom komen!

***zainal, al-nahdlah pd petir.

Tagged : #

Mayasya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *