Anak Al-Azhar masa ga Tau Al-Azhar?

Oleh: Mahardhika Mufti

Tidak wajar rasanya jika seorang siswa yang mengatakan dirinya bersekolah di Al-Azhar Asy-syarif namun tidak menghetahui apa itu Al-Azhar Asy-syarif.

Jujur, saya sendiri, yang notabene menggunakan nama Al-Azhar asy-syarif selama 12 tahun (Minasi-Matasya-Mayasya), baru menghetahui apa itu Al-Azhar Asy-syarif dari sejarah hingga peranannya kepada dunia pada tahun ke-13 saya menggunakannya dimana saya menginjakkan kaki di lembaga islam tertua tersebut. Dan itu adalah sebuah kesalahan besar yang tidak boleh diikuti adik-adik kelas saya yang tercinta.

Jadi pada tulisan saya kali ini, saya akan mengenalkan Al-Azhar asy-syarif kepada kawan-kawan secara gambaran luas. Setidaknya, jika ada yang bertanya kepada kita “Sekolah dimana?” Kita bisa dengan bangga menjawab “Al-Azhar Asy-Syarif” tanpa embel-embel lain di belakangnya seperti yang digunakan “Al-Aazhar” kebanyakan. Jadi, mari kita hapus “Altim atau Alazhar timbul” (dulu angkatan saya menggunakan ini) dan menggantinya dengan Al-Azhar Asy-Asyarif saja.

Al-Azhar Asy-Syarif pertama kali dibangun pada masa kekhalifahan Fatimiyah, pada abad ke-9 Masehi.  Dan nama Al-Azhar sendiri, diambil dari nama salah satu putri rasulullah SAW Fatimah Az-Zahra.

Mulanya Al-Azhar hanya nama bagi sebuah masjid yang terletak di ibu kota Mesir, Kairo. beberapa tahun kemudian, dibangunlah sebuah Universitas atau tempat pendidikan yang kemudian akan menjadi saksi terciptanya ribuan bahkan jutaan ulama-ulama di seantero dunia. Saya sebut saja, Ustad Abdussomad, pada kenalkan?

Al-Azhar sebagai suatu institusi, pastilah harus memiliki pemimpin, dan pemimpin Al-Azhar saat ini adalah Sheikh Ahmad Thayyib. Tidak lucu kan, kalau sebagai bawahan (siswa) kita tidak menghetahui nama pimpinan kita?

Universitas Al-Azhar, sejak berdirinya hingga sekarang, telah banyak memberi kontribusi bagi kemajuan peradaban islam. Mulai dari sektor ekonomi, politik, pemikiran hingga hal-hal sosial.

Mungkin yang paling saya ingat adalah peranan Al-Azhar dalam konflik rohingya baru-baru ini. Bagaimana tidak, ketika setiap tokoh dunia hanya bisa mengecam, Al-Azhar yang diwakili Sheikh Ahmad Thayyib selaku pimpinan tertinggi langsung menyambangi Jerman dan berdialog dengan perdana menteri Jerman untuk menekan Filipina agar tidak melanjutkan konflik tersebut. (Dalam sektor ekonomi, jerman banyak membantu Filipina) Dan kita sebagai siswa Al-Azhar patutlah bangga dengan itu.

Dan Al-Azhar sangat terkenal dengan sikap moderatnya, dan karena sikapnya ini pula, Al-Azhar dipandang hormat oleh semua institusi di dunia, dari institusi islam maupun non islam.

Apa itu moderat? moderat adalah manhaj (Jalan) yang diterapkan Al-Azhar. Moderat dalam bahasa arab adalah wasatiyah (tengah-tengah). Berarti Al-Azhar berada di tengah-tengah. Tengah-tengah dari apa? dari berbagai golongan yang ada dalam islam itu sendiri. Al-Azhar tidak begitu ke kiri (Liberal) dan Al-Azhar juga tidak begitu ke kanan (Radikal).

Dan dengan manhaj yang diterapkan Al-Azhar ini, Al-Azhar berharap agar dunia dapat menjadi tempat yang nyaman dan jauh dari konflik yang terjadi karena perbedaan.

siswa yang bersekolah dibawah naungan Al-Azhar dan benar-benar menerapkan pelajaran Al-Azhar dan Manhajnya dinamakan “Azhariy”

Bagaimana caranya menjadi Azhariy? Menurut sheikh Ali Jumuah, Azhariy adalah mereka yang berakidah Asya’riyah, berfikih pada Madzhab, beribadah dengan jalan sufi dan berkeinginan hidup di atas sunnah nabi Muhammad.

Akidah asy’ariyah adalah akidah Ahlussunnah wal jamaah. Akidah ini berpegang teguh kepada al-Quran dan Sunnah, dan menjadikan al-Quran dan sunnah menjadi tonggak terdepan pemikirannya. Jika kita bandingkan dengan muktazilah, muktazilah menjadikan akal menjadi tonggak terdepan pemikirannya.

Dan madzhab yang digunakan Al-Azhar adalah madzhab Ahlussunnah Wal Jamaah (Sunni). Berpegang teguh kepada imam 4 madzhab : imam Syafii, imam Hambali, imam Maliki dan imam Hanafi.

Di Al-Azhar juga mempelajari tasawuf sebagai materi akhlak. Dalam tasawuf, seorang belajar menyucikan dirinya dari sifat-sifat tercela dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat mulia.

Itu sekilas yang bisa saya sharing dalam tulisan ini tentang Al-Azhar dan perlu kita ketahui bersama sebagai seorang siswa Al-Azhar dan yang bernanung dibawah kebesaran namanya. Setelah membaca ini, semoga kawan-kawan bisa bangga dengan ke-Al-Azhar-annya.

● Penulis adalah Mahasiswa Al-Azhar Cairo, Alumni MA Al-Azhar Asy-Syarif Angkatan II.

admin